Followers

Monday, 15 April 2019

akuntansi_akuntan

4 MACAM JURNAL PENYESUAIAN YANG MEMERLUKAN JURNAL BALIK


Jurnal balik (reversing entries) adalah jurnal yang dibuat pada awal suatu periode akuntansi untuk membalik jurnal penyesuaian tertentu yang dibuat periode sebelumnya. Jurnal ini sebetulnya bukan merupakan suatu keharusan, ia dibuat agar pencatatan dalam periode berikutnya dapat dilakukan dengan lebih mudah.

Baca Juga : Cara Membuat Ayat Jurnal Penyesuaian Disertai Dengan Contohnya


Macam - Macam Jurnal Balik

Pada dasarnya ada empat macam jurnal penyesuaian yang memerlukan jurnal balik, yaitu:

1.   Beban masih harus dibayar (accured expense)
Pada tanggal 31 Desember 2018 PT Konoha membuat ayat jurnal penyesuaian dengan transaksi bunga utang bank yang masih harus dibayar sebesar Rp 200.000
Ayat Jurnalnya Penyesuaiannya sebagai berikut:
Pada Tanggal 2 Januari 2019 atau awal tahun, ayat jurnal penyesuaian diatas memerlukan ayat jurnal balik

2.   Beban dibayar dimuka (prepaid expense) apabila beban tersebut mula-mula dicatat pada akun beban (bukan akun aktiva seperti selama ini dipahami)
Di Neraca Saldo PT Konoha terdapat nilai beban perlengkapan sebesar Rp 800.000. Pada tanggal 31 Desember 2018 PT Konoha membuat ayat jurnal penyesuaian dengan transaksi hasil perhitungan fisik menunjukkan bahwa perlengkapan yang ada tinggal Rp 400.000.

Ayat Jurnalnya Penyesuaiannya sebagai berikut:
Pada Tanggal 2 Januari 2019 atau awal tahun, ayat jurnal penyesuaian diatas memerlukan ayat jurnal balik

3.   Pendapatan masih harus diterima (accured revenues)
Perusahaan PT Konoha menyewakan sebagian ruangan yang dipunyainya kepada perusahaan PT Maju. Sewa dibayar tiap-tiap pada tanggal 20 sebesar Rp 450.000. Pada tanggal 31 Desember 2018, sewa untuk pemakaian ruangan dari tanggal 21 Desember 2018 sampai dengan 31 Desember 2019.

Baca Juga : Contoh Soal Laporan Keuangan, Jurnal Penutup, dan Neraca Saldo Setelah Penutupan

     Ayat Jurnalnya Penyesuaiannya sebagai berikut:
Sedangkan Untuk Ayat Jurnal Baliknya sebagai berikut (pada awal tahun)

4.   Pendapatan diterima dimuka (unearned revenues) apabila pendapatan tersebut mula-mula dicatat pada akun pendapatan (bukan akun utang).
Di neraca saldo perusahaan PT Konoha memiliki nilai pendapatan diterima dimuka sebesar Rp 500.000. Jumlah yang sudah menjadi pendapatan sampai tanggal 31 Desember 2018 adalah Rp 100.000

Ayat Jurnalnya Penyesuaiannya sebagai berikut:
Sedangkan Untuk Ayat Jurnal Baliknya sebagai berikut (pada awal tahun)
Jurnal penyesuaian yang dibuat untuk mengoreksi akun persediaan dan untuk mencatat beban penyusutan tidak perlu dibuatkan jurnal balik.


Sumber: 
Soemarso. Akuntansi Suatu Pengantar. Salmeba Empat. Jakarta.
Pemahaman Penulis
Read More

Saturday, 13 April 2019

akuntansi_akuntan

PENGERTIAN AKUNTANSI BIAYA DAN 3 TUJUAN AKUNTANSI BIAYA

Baca Juga : Menghitung Harga Pokok Tersedia Untuk Dijual

Akuntansi biaya berasal dari Amerika mengenal dengan dua istilah yang berhubungan dengan biaya, yaitu cost dan expense. Di Indonesia, cost  dan expense diterjemahkan ke dalam beberapa istilah. Cost diterjemahkan menjadi harga perolehan atau kos. Sedangkan expense diterjemahkan menjadi biaya atau beban.

Kos adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat sekarang atau masa yang akan datang. Kos diukur dengan satuan mata uang, sebesar pengurangan aset dan penambahan utang. Pada saat barang dan jasa dimanfaatkan, kos akan menjadi biaya. Kos yang belum dimanfaatkan dikelompokkan menjadi aset

Biaya adalah kos barang atau jasa yang telah memberikan manfaat yang digunakan untuk memperoleh pendapatan. Biaya akan dikurangkan dari pendapatan untuk menentukan laba atau rugi pada suatu periode sehingga biaya akan dicantukman dalam laporan laba rugi.

Akuntansi biaya adalah suatu sistem informasi yang mengidentifikasi, menganalisis dan melaporkan informasi keuangan dan non keuangan yang terkait dengan biaya perolehan atau pengguna sumber daya dalam suatu organisasi (perusahaann). Akuntansi biaya menyediakan informasi biaya yang di butuhkan akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen.

Baca Juga : Prime Cost, Convertion Cost, dan Inventoriable Cost

Akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi manajemen. Akuntansi biaya menghasilkan informasi biaya yang dibutuhkan manajemen sebagai alat untuk menjalankan fungsi-fungsi manajemen sebagai alat untuk menjalankan fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan dalam perusahaan.

Adapun Tujuan/Peranan Utama dari Akuntansi Biaya:

Penentuan biaya produk, jasa, atau objek biaya lainnya

Untuk tujuan penentuan biaya suatu produk atau jasa, akuntansi biaya mencatat dan mengakumulasikan biaya-biaya dalam serangkaian aktivitas pembuatan produk atau penyerahan jasa. Biaya-biaya tersebut merupakan biaya-biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya, di masa yang lalu (historis).

Informasi biaya secara historis ini umumnya digunakan oleh pihak eksternal untuk menentukan nilai persediaan dan beban pokok penjualan dengan tujuan untuk menghitung besarnya laba.

Selain digunakan oleh pihak eksternal, biaya historis pun digunakan oleh pihak manajemen (pihak internal) perusahaan dalam menentukan besarnya biaya dari setiap jenis produk atau jasa yang dihasilkan secara terinci untuk tujuan penetapan harga dan evaluasi kinerja dari suatu jenis produk, departemen atau divisi.

Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Kinerja

Perencanaan adalah perumusan tujuan dan program jangka panjang dan jang pendek sebagai pedoman bagi aktivitas-aktivitas di masa yang akan datang. Contohnya perencanaa anggaran. Anggaran memainkan peranan penting dalam memotivasi dan memengaruhi perilak individu-individu dan kelompok di setiap tingkat manajemen untuk bekerja secara konsisten, sejalan dengan tujuan perusahaan.

Pengendalian biaya diawali dengan penentuan biaya yang seharusnya dikeluarkan melalui anggaran, kemudian membandingkan antara biaya yang sesungguhnya terjadi (biaya actual) dengan biaya yang telah ditetapkan sebelumnya (anggaran). Dalam hal ini anggaran dijadikan sebagai standar biaya.

Baca Juga : Contoh Soal Jurnal Akuntansi Biaya (Perusahaan Manufaktur)

Perencanaan yang baik semestinya dapat digunakan sebagai alat pengendalian yang efektif dan evaluasi kinerja manajemen. Dalam perencanaan dan pengendalian biaya, aspek prilaku manusia merupakan hak yang sangat dominan.

Pengambilan Keputusan Secara Khusus

Pengambilan keputusan berkaitan dengan pemilihan beberapa alternative di masa yang akan datang. Oleh ksrena itu informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan secara khusus selalu berkaitan dengan informasi di masa depan. Berdasarkan informas tersebut, manajemen akan membuat keputusan seperti pangsa pasar yang baru pengembangan produk, penghentian salah satu jenis produk atau seluruh lini produk membeli atau membuat seniri komponen baru, dan penambahan produk baru.

Akuntansi biaya mengembangkan konsep informasi biaya untuk pengambilan keputusan secara khusus seperti biaya diferensial (differential cost), biaya kesempatan, (opportunity cost), biaya terhindarkan (avoidable cost) dan biaya yang memerlukan pengeluaran utang kas (out of pocket cost).
Sumber :

Siregar dkk. 2013. Akuntansi biaya (Edisi 2). Salemba Empat

Wibowo dkk. 2016 Akuntansi Biaya (Edisi 2). Salemba Empat

Pemahaman Penulis
Read More

Tuesday, 9 April 2019

san

KARAKTERISTIK AKUNTANSI


Pengertian Akuntansi

Accounting Principle Board (APB) adalah badan otoritatif yang dibangun American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) pada tahun 1959 dan menerbitkan pernyataan prinsip-prinsip akuntansi sampai dengan tahun 1973, untuk kemudian digantikan oleh the Financial Accounting Standards Board (FASB). Prinsip dasar akuntansi menurut APB Statement No. 4 adalah (1) Cost Principle, (2) Revenue Principle, (3) Matching Principle, (4) Objectivity Principles, (5) Consistency Principles, (6) Diclosure Principle, (7) Conservatism Principles, (8) Materiality Principles, dan (9) Uniformity dan Comparability Principles.

Menurut APB, Akuntansi adalah kegiatan jasa yang berfungsi menyediakan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan yang kemudian dapat digunakan untuk pengambilan keputusan ekonomi.

American Accounting Association merupakan organisasi nirlaba yang bersangkutan dengan bagaimana profesi akuntansi diajarkan

Menurut AAA, Accounting is the process of identifying, measuring, and communicating economic information to permit information judgment and decision by users of the information. Pengertian Akuntansi adalah proses mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut.

Baca Juga : Debit dan Kredit Dalam Transaksi Akuntansi


American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) merupakan asosiasi profesional bertaraf nasional di Amerika Serikat dalam bidang akuntan publik serta aturan-aturan etika dalam profesinya. Organisasi ini hanya beranggotakan akuntan publik yang bersertifikasi resmi. Kantor AICPA berada di Durham, Carolina Utara, Amerika Serikat.

Definisi Akuntansi adalah suatu aktivitas jasa (mengidentifikasikan, mengukur, mengkalsifikasikan dan mengikhtisarkan) kejadian atau transaksi ekonomi yang menghasilkan informasi kuantitatif terutama yang bersifat keuangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan (Amin. W, 1997)

Setelah mendapatkan beberapa pengertian dari para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah Sebuah siklus, aktivitas atau proses dalam mengidentifikasi (apakah transaksi tunai atau non tunai), proses mencatat (menjurnal), proses mengklasifikasi (apakah termasuk aset, kewajiban, ekuitas,pendapatan, dan beban), proses mengolah data , dan menyajikan data (laporan keuangan) untuk memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas bagi yang menggunakan informasi tersebut (apakah pengguna internal atau pengguna internal).

Tujuan Akuntansi

Setelah mengetahui pengertian akuntansi yang telah dijelaskan diatas, akuntansi diharapkan mampu mencapai beberapa tujuan sebagai berikut :

  1. Sebagai sumber acuan informasi keuangan yang dapat dipercaya kebenarannya mengenai aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan beban.
  2. Sumber informasi terpercaya dalam perubahan-perubahan dan perbandingan-perbandingan sumber ekonomi setelah terjadinya kegiatan usaha dari waktu ke waktu.
  3. Membantu penggunanya dalam membaca informasi keuangan yang berguna untuk memperkirakan posisi keuangan perusahaan dan potensi perusahaan dalam menambah sumber ekonomi baru maupun laba.
  4. Memoniotor jika terjadi perubahan pada sumber ekonomi.
  5. Menyampaikan data-data secara detail yang nantinya akan digunakan oleh pengguna lapoaran keuangan baik internal maupun eksternal.
Fungsi Akuntansi

Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan kepada lembaga ekonomi dan pengambil keputusan apakah dari pihak internal maupun pihak eksternal .

Pemakai Informasi Akuntasi

Dalam pembahasan diatas ada yang menjelaskan pihak internal dan eksternal. Pihak itulah yang menjadi pemakai informasi akuntansi.

Pihak internal yaitu pihak yang berkepentingan langsung terhadap perusahaan. Pihak-pihak internal antara lain :

·         Direktur, dalam hal ini pendiri perusahaan, laporan keuangan  digunakan untuk mengetahui perkembangan keuangan yang terjadi di perusahaannya dalam kurun waktu tertentu, serta dapat digunakan apakah perusahaannya bisa bertahan selama satu atau beberapa periode mendatang.

·         Akuntan dan Staf Accounting, yang bertanggung jawab untuk menyusun laporan keuangan suatu perusahaan sebelum dipresentasikan dan dipertanggung jawabkan terhadap direktur.

·         Karyawan, membutuhkan informasi laporan keuangan untuk mengetahui apakah perusahaan tempat mereke bekerja berada dalam kondisi sehat atau sedang dalam kondisi krisis.

Pihak Eksternal yaitu pihak yang tidak berkepentingan langsung terhadap perusahaan. Pihak-pihak eksternal antara lain :

·         Investor, mereka membutuhkan informasi laporan keuangan untuk menilai apakah suatu perusahaan bisa go publik dan memiliki kemampuan untuk membayar dividen atau justru sebaliknya.

·         Kreditor, mereka membutuhkan informasi laporan keuangan untuk menilai apakah suatu perusahan berada dalam kondisi sehat dan memiliki kemampuan membayar angsuran pokok dan bunga pada saat jatuh tempo (apabila suatu perusahaan diberikan bantuan dana kredit atau tidak).

·         Supplier, mereka membutuhkan informasi laporan keuangan untuk menilai apakah suatu perusahaan masih memiliki kemampuan untuk membayar dan melunasi utang atas bahan baku yang dipesan dari mereka atau tidak.

·         Pemerintah, Pemerintah membutuhkan informasi laporan keuangan untuk menentukan kebijakan dalam kaitannya dengan pajak dan pungutan yang nantinya akan dibebankan kepada perusahaan serta bantuan yang nantinya diberikan kepada perusahaan.

·         Masyarakat, mereka membutuhkan informasi laporan keuangan untuk mengetahui jumlah kekayaan yang dimiliki suatu perusahaan

Baca Juga : Konsep Persamaan Akuntansi

Pekerjaan Akuntan

Akuntan adalah suatu profesi yang ada di indonesia, secara garis besar akuntan dapat digolongkan menjadi :

  1. Akuntan Publik, adalah akuntan independen yang memberikan jasa-jasanya atas pembayaran tertentu . Akuntan publik dapat memberikan jasa pemeriksaan (audit), jasa perpajakan (tax service), jasa akuntansi (accounting service)
  2. Akuntan Manajemen, adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi. Tugas yang dikerjakannya adalah penyusunan sistem akuntansi, penyusunan laporan akuntansi kepada pihak ekstern, penyusunan anggaran, menangani masalah perpajakan dan melakukan pemeriksaan intern
  3. Akuntan Pemerintah, adalah akuntan yang bekerja pada badan-badan pemerintah seperti di departemen, BPKP dan BPK, Direktorat Jendral Pajak dan lain-lain.
  4. Akuntan Pendidik, adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi yaitu mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi dan melakukan penelitian dibidang akuntansi.

Read More
akuntansi_akuntan

MEMAHAMI KEGIATAN PERUSAHAAN DAGANG



Secara konseptual, mengukur laba bersih sebuah perusahaan dagang memiliki kesamaan dengan perusahaan jasa, yaitu laba/rugi bersih berasal dari selisih antara beban dan pendapatan. Untuk perusahaan dagang sumber utama pendapatannya adalah penjualan barang dagang atau biasa disebut pendapatan penjualan (sales revenue).  Beban perusahaan dagang berbeda dengan beban perusahaan jasa. Beban perusahaan dagang dapat dibagi ke dalam dua kelompok yaitu:

1.    Harga Pokok Penjualan – HPP (Costs Of Goods Sold – COGS) adalah total harga pokok barang dagang yang dijual (cost of merchandise sold) dalam satu periode. Beban ini berkaitan langsung dengan pendapatan yang diakui dari penjualan barang.

2.    Beban Operasi (Operating Expense) adalah beban yang dikeluarkan dalam proses untuk menghasilkan pendapatan, penjualan. Contohnya gaji penjualan, beban iklan, dan beban asuransi serta beban operasi suatu perusahaan dagang juga meliputi sejumlah beban-beban yang ditemukan dalam perusahaan jasa.

Baca Juga : Memahami Konsep Perusahaan Manufaktur


Siklus Operasi

Siklus operasi sebuah perusahaan dagang berbeda dengan perusahaan jasa. Siklus operasi perusahaan dagang pada umumnya lebih panjang dibandingkan dengan perusahaan jasa. Sebab di perusahaan dagang memiliki akun pembelian persediaan barang dagang. (apakah itu pembelian maupun penjualan).

Sistem Persediaan
Sebuah perusahaan dagang mencatat perubahan dalam persediaanya untuk menentukan apa yang tersedia untuk dijual dan apa yang telah dijual. Ada 2 sistem yang digunakan untuk mencatat persediaan sebagai berikut :
1.    Sistem Perpetual (Perpetual Inventory System)
Sistem Perpetual adalah rincian catatan mengenai setiap pembelian dan penjualan persediaan disimpan. Sistem ini secara terus-menerus (secara perpetual) menunjukkan persediaan yang harus dimiliki untuk setiap jenis barang. Sebagai contoh, sebuah agen pengiriman Toyota memiliki catatan persediaan yang terpisah untuk setiap kendaraa, truk, dan van yang dimilikinya. Berdasarkan system persediaan perpetual, harga pokok penjualan ditentukan dari setiap kali terjadi penjualan.
2.    Sistem Periodik (Periodic Inventory System)
Sistem periodik adalah rincian catatan persediaan barang yang dimiliki tidak disesuaikan secara terus-menerus dalam satu periode. Harga pokok penjualan barang ditentukan hanya pada akhir periode akuntansi (secara periodik). Pada saat itu, dilakukan perhitungan persediaan secara fisik untuk menentukan harga pokok barang yang tersedia (Persdiaan Barang Dagang). Untuk menentukan harga pokok barang dalam system ini ada beberapa yang harus dilakukan yaitu:
a)    Menentukan harga pokok barang yang tersedia (cost of goods on hand) pada awal periode akuntansi
b)    Menambahkannya pada harga pokok barang yang dibeli (cost of goods purchased)
c)    Mengurangkannya dengan harga pokok barang yang tersedia pada akhir periode akuntansi.

Baca Juga : Perbedaan Perusahaan Jasa, Perusahaan Dagang, dan Perusahaan Manufaktur

Pertimbangan Tambahan Mengenai Sistem Persediaan
Sistem Perpetual secara tradisional digunakan oleh perusahaan yang menjual barang dengan nilai per unit tinggi. Contohnya adalah kendaraan, furniture, dan perlengkapan rumah tangga utama. Semakin luasnya pengguna komputer dan pemindaian elektronik di zaman mileneal ini memungkinkan semakin banyak perusahaan menggunakan system persediaan perpetual. Dinamakan sistem persediaan perpetual karena catatan akuntansi secara terus-menerus (perpetual) menunjukkan jumlah dan harga pokok persediaan yang dimiliki setiap saat.
Sistem persediaan perpetual memberikan pengendalian persediaan yang lebih baik dibandingkan dengan sistem persediaan periodik. Seperti dalam keberhasilan perusahaan Wal – Mart dan Morrow Snowboards Inc menggunakan sistem perpetual. Oleh karena itu system persediaan perpetual semakin popular dan banyak digunakan.
Sumber : Jerry dkk. Acoounting Principles. Salemba Empat dan dipadukan dengan pemahaman penulis.
Read More

Monday, 8 April 2019

san

PENGERTIAN, BIAYA PEROLEHAN DAN CARA MENCATAT AKTIVA TETAP


Tujuan Pengajarannya adalah agar para pembaca dapat :
1.      Menjelaskan pengertian aktiva tetap.
2.      Menjelaskan konsep harga perolehan aktiva tetap.
3.      Mencatat perolehan aktiva tetap.
4.      Menghitung dan mencatat penyusutan aktiva tetap.

PENGERTIAN

Aktiva tetap adalah aktiva berwujud (tangible fixed assets) yang :
1.      Masa manfaatnya lebih dari satu tahun
2.      Digunakan dalam kegiatan perusahaan
3.      Dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan serta
4.      Nilainya cukup besar
Adapun kriterianya :
1.      Pada umumnya, pemakaiannya lebih dari satu tahun.
2.      Dipakai untuk kegiatan perusahaan.
3.      Tidak untuk dijual kembali.
Contoh aktiva ini seperti mobil-mobil yang dimiliki oleh sebuah dealer mobil. Mobil-mobil itu kalau dipakai, dapat berumur lebih dari satu tahun. Namun, karena tujuan pemilikannya adalah untuk dijual kembali, maka mobil-mobil tadi dikelompokkan sebagai persediaan barang-dagangan, bukan sebagai aktiva tetap.
Istilah dipakai dalam kegiatan perusahaan tidak berarti bahwa pemakaian harus berlangsung terus-menerus. Mesin-mesin cadangan yang hanya digunakan pada waktu-waktu sibuk, misalnya tetap dikelompokkan sebagai aktiva tetap. Aktiva tetap yang digunakan dalam kegiatan perusahaan disajikan sebagai aktiva lain-lain. Akhirnya perlu dicatat bahwa hanya aktiva yang nilainya cukup tinggi sajalah yang biasanya dikelompokkan sebagai aktiva tetap. Aktiva yang nilainya tidak besar, misalnya pulpen, sendok, dan lain-lain. Biasanya tidak dikelompokkan sebagai aktiva tetap, walaupun aktiva tadi dipakai dalam kegiatan perusahaan dan umurnya lebih dari satu tahun.

Baca Juga : Cara Menghitung Harga Pokok Persediaan Menggunakan Metode FIFO, LIFO, dan Average

BIAYA PEROLEHAN

Semua biaya yang terjadi untuk memperoleh suatu aktiva tetap sampai tiba di tempat dan siap digunakan harus dimasukkan sebagai bagian dari harga perolehan (cost) aktiva yang bersangkutan. Dengan demikian harga perolehan suatu aktiva tetap tidak terbatas pada harga belinya saja. Termasuk dalam harga perolehan adalah biaya pengiriman, asuransi, pemasangan, dan bea balik nama. Misalnya, apabila suatu perusahaan membeli tanah dengan harga Rp 20.000 dan untuk ini harus dibayar biaya notaris sebesar Rp 500, biaya balik nama sebesar Rp 300 dan komisi kepada makelar Rp 200, maka harga perolehan dari tanah tadi adalah Rp 21.000.
Masalah yang mungkin timbul adalah apabila beberapa aktiva tetap dibeli sekaligus dan tiap-tiap aktiva tidak disebutkan harganya. Dalam hal demikian, total harga yang dibebankan harus dialokasikan ke masing-masing aktiva yang bersangkutan.
Sebagai contoh, perusahaan suatu perusahaan membeli gedung beserta tanah dimana gedung itu berdiri dengan harga Rp 100.000. Jumlah ini sudah termasuk biaya notaris, bea balik nama, komisi, dan lain-lain. Harga sebesar Rp 100.000 tersebut perlu dialokasikan antara harga perolehan untuk tanah dan gedung. Anggaplah, kemudian bahwa berdasarkan taksiran harga pasar yang berlaku, tanah bernilai Rp 20.000 dan gedung ditaksir seharga Rp 60.000. Alokasi harga perolehan untuk tanah dan gedung, dengan demikian adalah sebagai berikut:
            Harga Taksiran                                             Alokasi Harga Perolehan
Tanah              Rp       20.000                         20/80 x 100.000          = Rp    25.000
Gedung                       60.000                         60/80 x 100.000          =          75.000
                        Rp       80.000                                                                Rp   100.000
Ayat jurnal yang perlu dibuat, apabila pembelian dilakukan dengan tunai, adalah sebagai berikut:
            (D)       Tanah                          Rp 25.000
            (D)       Gedung                       Rp 75.000
            (K)                   Bank                                        Rp 100.000
            Apabila taksiran harga pasar dari masing-masing aktiva sukar dibuat, maka alokasi dapat didasarkan atas criteria-kriteria lain, misalnya nilai yang ditetapkan untuk pajak (NJOP = Nilai Jual Objek Pajak). Jika harga taksiran hanya dapat dilakukan untuk satu jenis aktiva saja, misalnya tanah, maka sisanya dianggap sebagai harga perolehan aktiva lainnya.

Baca Juga : Cara Menghitung Jatuh Tempo Wesel

PEROLEHAN DENGAN HARGA ANGSURAN

Adakalanya  suatu aktiva tetap dibeli secara angsuran. Dalam hal demikian, kontrak pembelian dapat menyebutkan bahwa pembayaran akan dilakukan dalam sekian kali angsuran  dan terhadap saldo yang dibayar dikenakan bunga.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan membeli tanah dengan harga Rp 50.000. Jumlah ini akan dibayar dalam 25 kali angsuran bulanan dan terhadap saldo yang belum dibayar, perusahaan dibebani bunga sebesar 12% setahun. Ayat jurnal yang perlu dibuat pada waktu pembelian dilakukan adalah sebagai berikut:
(D)       Tanah                                                  Rp 50.000
(K)                   Utang angsuran                                               Rp 50.000
Pada waktu membayar angsuran pertama, jumlah yang harus dibayar dihitung sebagai berikut:
            Angsuran bulanan : Rp 50.000: 25                                         Rp       2.000
            Bunga selama sebulan untuk saldo yang belum                                    
            dibayar 1/12 x 12% x Rp 50.000                                                           500
            Jumlah yang harus dibayar                                                      Rp       2.500
Ayat jurnal yang harus dibuat untuk pembayaran ini adalah sebagai berikut:
            (D)       Utang angsuran                       Rp 2.000
            (D)       Beban bunga                                    500
            (K)                   Bank                                                    Rp 2.500
            Angsuran kedua terdiri dari angsuran pokok bulanan sebesar Rp 2.000 ditambah bunga selama satu bulan atas saldo atas saldo utang yang belum dibayar. Utang yang belum dibayar pada saat ini tinggal Rp 48.000. Jumlah ini diperoleh dari Rp 50.000, saldo yang mula-mula dikurangi pembayaran pada angsuran pertama sebesar Rp 2.000. Bunga yang dibebankan selama bulan ini dengan demikian akan sebesar 1/12 x 12% x Rp 48.000 = Rp 480. Jumlah yang harus dibayar adalah Rp 2.000 ditambah dengan Rp 480 sama dengan Rp 2.480. Ayat jurnal yang perlu dibuat tampak seperti dibawah ini:
            (D)       Utang angsuran                       Rp 2.000
            (D)       Beban bunga                                   480
            (K)                   Bank                                                    Rp 2.480
Proses perhitungan ini akan berulang setiap satu kali dalam satu bulan.
            Contoh soal, sebuah mobil jika dibeli tunai harganya Rp 60.000. Mobil tersebut dapat juga dibeli dengan angsuran selama 2 tahun. Bunga yang dibebankan adalah 12% per tahun atas total pinjaman. Dengan dibeli angsuran harga mobil menjadi Rp 60.000 + (Rp 60.000 x 12% x 24/12) = Rp 74.400. Angsuran perbulan adalah Rp 3.100 dari Rp 74.400 dibagi 24. Angsuran bulannya ini sama setiap bulannya. Adapun untuk ayat jurnal yang dibuat pada waktu ditandatangani kontrak pembelian sebagai berikut:
            (D)       Kendaraan                                           Rp 60.000
            (K)                   Utang angsuran                                               Rp 60.000
Pada jurnal diatas bunga belum dicatat, dan akan dicatat pada saat pembayaran angsuran atau pembayaran berikutya. Untuk mencari bagian bunga dari setiap angsuran perlu diketahui tingkat bunga efektif yang berlaku. Tingkat bunganya 12% per tahun, tetapi tingkat bunga efektifnya lebih tinggi. Tingkat bunga efektif dapat dicari dengan menggunakan metode bunga majemuk (anuitas). Jika dihitung dengan bunga majemuk, tingkat bunga efektif dalam contoh diatas adalah 21,8% per tahun. Bunga pada angsuran pertama dihitung sebagai berikut:
Bunga = 1/12 x 21,8% x Rp 60.000 = Rp 1.090.
            Bagian yang digunakan untuk membayar pokok utang dengan demikian adalah Rp 3.100 – Rp 1.090 – Rp 2.010. Ayat jurnal yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:
            (D)       Utang angsuran                       Rp 2.010
            (D)       Beban bunga                                 1.090
            (K)                   Bank                                                    Rp 3.100
Pada angsuran kedua jumlah pembayarannya sama, yakni 3.100 tetapi komposisi bunga dan pokok utang akan berbeda dengan angsuran yang pertama. Perhitungannya sebagai berikut:
Bunga = 1/12 x 21,8% x (Rp 60.000 – Rp 2.010) = Rp 1.054 (dibulatkan)
            Pokok utang angsuran (Rp 3.100 – Rp 1.054)     =       2.046
                                                                                             = Rp  3.100
Ayat jurnal yang perlu dibuat adalah sebagai berikut:
            (D)       Utang angsuran                       Rp 2.046
            (D)       Beban bunga                                 1.054
            (K)                   Bank                                                    Rp 3.100

Baca Juga : 3 Karier di Bidang Akuntansi

PENYUSUTAN

Semua jenis aktiva tetap, kecuali tanah akan makin berkurang kemampuannya untuk memberikan jasa bersamaan dengan berlalunya waktu. Beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnuya kemampuan ini adalah pemakaian, keausan, ketidakseimbangan kapasitas yang tersedia dengan yang diminta dan keterbelakangan teknologi. Berkurangnya kapasitas berarti berkurangnya nilai aktiva tetap yang bersangkutan. Hal ini perlu dicatat dan dilaporkan. Pengakuan adanya penurunan nilai aktiva tetap berwujud disebut penyusutan (depreciation). Penyusutan dapat dihitung tiap-tiap bulan atau ditunda sampai dengan akhir tahun. Apabila dibuat laporan keuangan interim secara bulanan, penyusutan yang dilakukan bulanan akan lebih dapat mencerminkan posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan dalam bulan yang bersangkutan.
Ayat jurnal yang perlu dibuat untuk mencatat penyusutan adalah debit beban penyusutan dan kredit akumulasi penyusutan. Beban penyusutan merupakan akun sementara yang pada akhir tahun akan ditutup ke akun laba di tahan bersama-sama dengan akun-akun sementara yang lain. Akun akumulasi penyusutan merupakan aktiva tetap dan merupakan akun kontra terhadap aktiva tetap yang bersangkutan. Selisih antara harga perolehan dengan akumulasi penyusutan merupakan bagian dari harga perolehan yang belum disusutkan. Selisih ini disebut nilai buku (book value) aktiva tetap.

"Diam bukanlah cara untuk membuktikan kesalahan"
Sumber: 
Soemarso. Akuntansi Suatu Pengantar. Salemba Empat. Jakarta.
Pemahaman Penulis

Read More

Followers